The Journey

04 mei 2020
Tepat setahun yang lalu, 04 mei 2019. Seorang remaja dengan membawa banyak harapan dan sejuta mimpinya mendatangi sebuah kampus impiannya. Salah satu kampus negri di daerah Jawa timur. Yaaa saat itu adalah tes UTBK pertamanya yang dia ikuti. Dia berangkat dengan tersenyum dan ceria walaupun ia belum sarapan dari pagi. Namun, semangat dalam dirinya terus berkobar. Semangat yang membawa sejuta harapan dan mimpi untuk masa depannya. 
Saat itu, salah satu harapannya adalah menjadi mahasiswi di kampus tersebut. Tepat sekali, ujian pertamanya dia mendapatkan tempat di rektorat kampus tersebut. 
Selang beberapa minggu kemudian, dia kembali ke kampus tersebut untuk melakukan tes keduanya. Entah mengapa dia merasa tidak yakin dan pesimis saat itu. Berbeda dengan kali pertama ia melakukan ujian pertamanya. 
Singkat ceritaaa,,, saat pendaftaran masuk perguruan tinggi, dia benar2 memilih kampus tersebut di pilihan pertama dan kedua. Dengan percaya dirinya dia berani mengambil langkah itu. Namun selang beberapa hari kemudian, dia mendapatkan info bahwa kampus tersebut adalah menempati peringkat pertama peminat terbanyak saat itu. Dia langsung terkejut dan pesimis.
Beberapa bulan kemudian, hari yang ditunggu-tunggu pun datang. Dia benar-benar tidak berani membukanya. Hingga akhirnya dia memberanikan diri dan hasilnya 'merah'. Dia benar-benar menangis. Dia tidak tau harus menyalahkan siapa. Dirinya? Orang disekitarnya? Atau takdir? Saat itu dia benar-benar terpuruk dan jatuh. Namun setelah itu dia bangkit lagi dan mengikuti ujian mandiri di beberapa perguruan tinggi. Hasilnya pun sama. GAGAL. Kata itu yang saat itu sudah menjadi makanan sehari-hari dirinya. Hingga akhirnya setelah ia benar-benar merasa putus asa dia diterima di kampus swasta dengan jurusan yang diminati dan kampus negri dengan jurusan yang menjadi pilihan kedua. Hingga akhirnya ia mengambil keputusan untuk memilih kampus negri tersebut. 
Daaannnnn,,, kampus negri tersebut berada dekat sekali dengan kampus impiannya. Bahkan dari balkon kamarnya ia bisa melihat gedung-gedung yang menjulang kampus impiannya tersebut. Setengah taun awal dia benar-benar masih sedih dan terkadang belum bisa menerima keadaan. Namun tepat setaun ini. Dengan perlahan luka itu mulai tertutup dan sembuh. Dia mencoba untuk berdamai dengan takdir dan diri sendiri. 

"Setiap yang kita impikan dan kita harapkan belun tentu itu akan menjadi takdir yang baik untuk kita bagi tuhan. So, selalu mencoba berdamailah dengan takdir dan diri sendiri" 

Komentar

  1. Beautiful banget kak kisahnya... Amanatnya juga bisa diterapkan��

    BalasHapus

Posting Komentar